Minggu, 24 Mei 2026
--°C --
-- · --
News

Rupiah Terpuruk! BI Diprediksi Naikkan Suku Bunga Jadi 5%, Pasar Auto Tegang

SN
Tim Redaksi
20/05/2026, 10:15 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi karawangbekasi.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Rupiah Terpuruk! BI Diprediksi Naikkan Suku Bunga Jadi 5%, Pasar Auto Tegang

Ilustrasi - Bank Indonesia (BI)

fin.co.id - Tekanan terhadap rupiah makin sulit dibendung. Di tengah pelemahan mata uang domestik yang terus menyentuh level terendah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Bank Indonesia (BI) diperkirakan bakal mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

Prediksi tersebut datang dari ekonom DBS, Radhika Rao. Menurut dia, BI kini lebih fokus menjaga stabilitas nilai tukar dibanding mendorong pertumbuhan melalui pelonggaran kebijakan moneter.

DBS Prediksi BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5%

DBS memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,0% dalam rapat kebijakan moneternya hari ini. Langkah itu dinilai penting untuk memperkuat kepercayaan pasar sekaligus meredam tekanan terhadap rupiah.

Advertisement

Radhika Rao menjelaskan, inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan menjadi salah satu faktor utama yang memperberat tekanan terhadap aset-aset domestik Indonesia.

Kondisi tersebut membuat selisih suku bunga antara AS dan Indonesia semakin melebar. Akibatnya, daya tarik aset dalam negeri ikut tertekan dan arus modal berpotensi keluar dari pasar domestik.

“Secara keseluruhan, pelemahan rupiah yang persisten meski intervensi dilakukan secara berkelanjutan, penurunan cadangan devisa, serta pelebaran spread terhadap SRBI mendukung argumentasi untuk kebijakan suku bunga yang lebih ketat,” tulis Rao.

Rupiah Jadi Salah Satu Mata Uang Berkinerja Terburuk

Meski BI sudah melakukan berbagai langkah intervensi, tekanan terhadap rupiah belum juga mereda. Bank sentral diketahui aktif melakukan intervensi di pasar spot demi menjaga stabilitas nilai tukar.

Namun, upaya tersebut belum cukup kuat membalikkan arah pergerakan rupiah. DBS menilai rupiah tetap menjadi salah satu mata uang dengan performa terburuk sepanjang tahun berjalan.

Kondisi ini membuat pelaku pasar mulai menanti langkah konkret dari BI. Kenaikan suku bunga dinilai menjadi sinyal kuat bahwa otoritas moneter serius menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Inflasi AS Jadi Pemicu Tekanan Baru

Data inflasi Amerika Serikat yang lebih panas dari perkiraan turut memperumit situasi. Ketika inflasi AS meningkat, peluang bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi menjadi semakin besar.

Advertisement

Situasi itu otomatis memperlebar gap suku bunga dengan Indonesia. Investor global pun cenderung memilih aset berbasis dolar AS yang dianggap lebih aman dan menawarkan imbal hasil menarik.

Efeknya langsung terasa ke pasar domestik. Rupiah tertekan, sementara aset-aset keuangan Indonesia menghadapi tekanan tambahan dari arus modal asing yang lebih selektif.

Bagikan Artikel
Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis
FIN Biro Karawang Bekasi