News . 25/05/2026, 08:29 WIB
Penulis : Gatot Wahyu | Editor : Gatot Wahyu
Ringkasan :
fin.co.id - Kabupaten Bekasi bergejolak! Rencana pembangunan infrastruktur yang digadang-gadang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat kini terancam terhambat. Apa pasal? Ternyata, kenaikan harga BBM nonsubsidi menjadi biang keladinya, menciptakan efek domino yang mengerikan bagi anggaran daerah.
Pemerintah Kabupaten Bekasi tak tinggal diam menghadapi situasi genting ini. Mereka segera menyelaraskan estimasi biaya barang dan jasa, yang dikenal sebagai Harga Perkiraan Sendiri (HPS), untuk berbagai proyek infrastruktur. Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap kebijakan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang baru-baru ini diumumkan pemerintah pusat.
Kenaikan harga BBM ini bukan sekadar angka di pompa bensin. Ia memiliki dampak langsung dan signifikan pada rencana pembangunan infrastruktur di Kabupaten Bekasi. Yang paling terasa adalah lonjakan harga material konstruksi yang semakin meroket. Akibatnya, sejumlah proyek krusial kini harus menjalani penyesuaian ulang yang mendesak sebelum benar-benar direalisasikan di lapangan.
Ketidakpastian anggaran menjadi momok menakutkan bagi Pemkab Bekasi. Anggota Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten Bekasi, Iis Sandra, mengungkapkan keprihatinan mendalam. "Kebetulan hari Rabu kemarin kami telah berkonsultasi dengan Kemendagri RI," ujarnya di Cikarang, Jawa Barat, Minggu.
Iis menekankan pentingnya pendekatan yang hati-hati. "Kami juga tidak ingin memaksakan dengan kondisi APBD yang telah ditentukan," tegasnya. Ia menjelaskan bahwa postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bekasi tahun 2026 telah disahkan berdasarkan perencanaan tahun lalu.
Namun, kenyataan pahit baru saja terjadi. Kenaikan harga BBM baru menghantam dalam beberapa pekan terakhir. Ini berarti, ada kebutuhan mendesak untuk melakukan penyesuaian ulang terhadap HPS yang sudah ada. Anggaran yang dirancang setahun lalu jelas tidak lagi relevan dengan kondisi ekonomi saat ini.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah daerah berencana melakukan pergeseran APBD. Tujuannya jelas: penyesuaian harga untuk kebutuhan vital pembangunan infrastruktur. Rencana ini didukung penuh oleh hasil konsultasi dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI.
Hasil konsultasi tersebut akan segera dibahas lebih lanjut dalam pertemuan penting bersama kepala daerah pekan depan. "Rencananya Selasa (26/5) kami bahas bersama pimpinan," ungkap Iis. "Sebab perlu ada kebijakan dengan penyesuaian kondisi yang mendesak untuk pembangunan infrastruktur demi kepentingan publik," tambahnya, menunjukkan urgensi situasi ini.
Dampak kenaikan harga BBM tidak hanya terasa pada biaya operasional, tetapi juga pada harga material dasar pembangunan. Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Bekasi, Nur Chaidir, membenarkan kekhawatiran ini. Ia menegaskan bahwa kenaikan harga BBM secara langsung mempengaruhi harga pasar material pembangunan infrastruktur.
Oleh karena itu, penyesuaian HPS menjadi suatu keniscayaan. Nur Chaidir merinci bahwa sejumlah material kunci seperti aspal, hotmix, semen, hingga besi mengalami kenaikan harga yang signifikan setelah pemerintah mengumumkan harga terbaru BBM jenis nonsubsidi.
Situasi ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Ada kekhawatiran serius jika pemerintah daerah memaksakan diri untuk tetap melanjutkan proyek dengan anggaran lama. "Dik khawatirkan apabila dipaksakan akan mempengaruhi kualitas pembangunan infrastruktur," kata Nur Chaidir.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media