Rupiah Anjlok Dolar Melonjak, Harga Beras SPHP Bakal Kena Imbasnya?
fin.co.id - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan harga beras dalam program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tetap stabil meskipun nilai tukar dolar Amerika Serikat mengalami fluktuasi.
Direktur SPHP Bapanas, Maino Dwi Hartono, menegaskan bahwa perubahan kurs global tidak akan berdampak pada harga beras subsidi yang ditujukan untuk masyarakat.
“Penguatan dolar tidak berimbas pada harga beras SPHP. Pemerintah memastikan harga tetap,” ujarnya di Jakarta.
Kebijakan ini merupakan bagian dari langkah pemerintah dalam menjaga keterjangkauan pangan sekaligus melindungi daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.
Harga Beras SPHP Tetap, Ini Rinciannya
Bapanas telah menetapkan harga beras SPHP di tingkat konsumen sebagai berikut:
- Rp12.500 per kilogram untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, NTB, dan Sulawesi
- Rp13.100 per kilogram untuk wilayah Sumatera lainnya, NTT, dan Kalimantan
- Rp13.500 per kilogram untuk Maluku dan Papua
Harga tersebut dipastikan tidak berubah dan tetap dalam pengawasan pemerintah.
Anggaran Rp4,97 Triliun untuk Jaga Stabilitas
Untuk mendukung program ini, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp4,97 triliun pada 2026. Dana tersebut digunakan untuk mensubsidi sekitar 828 ribu ton beras agar tetap terjangkau bagi masyarakat.
Program ini juga merupakan kelanjutan dari kebijakan stabilisasi pangan yang telah berjalan sejak tahun sebelumnya.
Aturan Pembelian dan Distribusi Diperluas
Pemerintah menetapkan batas maksimal pembelian beras SPHP bagi masyarakat, yakni hingga 5 kemasan ukuran 5 kilogram atau alternatif 2 kemasan ukuran 2 kilogram.
Selain itu, mitra Perum Bulog kini dapat membeli hingga 5 ton beras, meningkat dari sebelumnya 2 ton. Kebijakan ini bertujuan memperlancar distribusi dan memastikan stok tetap tersedia di pasaran.
Kualitas Dijaga, Stok Nasional Melimpah
Bapanas memastikan kualitas beras SPHP tetap terjaga melalui pengawasan Perum Bulog. Saat ini, cadangan beras pemerintah tercatat mencapai 5,3 juta ton, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.
Stok tersebut menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan beras nasional.
Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas pangan nasional serta menindak tegas pihak-pihak yang mencoba memainkan harga di pasar.
Dengan kebijakan ini, masyarakat diharapkan tetap tenang karena ketersediaan dan harga beras dipastikan aman di tengah dinamika ekonomi global.