News . 02/06/2026, 16:18 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Kabar kurang sedap kembali menghantui ketahanan pangan tanah air yang berpotensi memicu lonjakan harga di pasar domestik dalam beberapa bulan ke depan. Anda wajib mencermati dinamika pasokan makanan pokok ini karena menyangkut isi dompet dan kebutuhan dapur sehari-hari.
Badan Pusat Statistik baru saja merilis data proyeksi terbaru yang menunjukkan adanya sinyal bahaya pada sektor pertanian pangan utama kita. Sektor hulu pertanian sedang menghadapi tekanan berat akibat menyusutnya lahan siap panen di berbagai sentra lumbung padi regional.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, membeberkan estimasi kinerja sektor pertanian tersebut secara langsung di Jakarta pada hari Selasa. Beliau mengungkapkan bahwa potensi hasil gilingan padi untuk periode Mei hingga Juli tahun ini berada dalam tren yang mengkhawatirkan.
Institusi pencatat data negara tersebut memproyeksikan volume ketersediaan bahan pangan pokok itu hanya mampu menyentuh angka 7,92 juta ton saja. Jumlah estimasi tersebut otomatis mengalami kemerosotan sebesar 0,09 juta ton atau setara dengan penurunan 1,16 persen secara tahunan.
Pihak berwajib menjelaskan bahwa merosotnya angka perkiraan panen ini terjadi akibat berkurangnya area pertanian yang siap menghasilkan. BPS mengalkulasi bentangan luas lahan pertanian aktif pada periode tiga bulan ke depan menyusut hingga tersisa 2,69 juta hektare.
Angka kapasitas lahan pertanian tersebut memperlihatkan adanya penurunan sebesar 0,65 persen jika Anda bandingkan dengan periode Mei-Juli tahun lalu. Kondisi ini mencerminkan tantangan besar yang harus segera mendapat penanganan intensif agar krisis pangan tidak meluas.
Jika kita melihat ke belakang, performa sektor perberasan nasional pada awal tahun sebenarnya sempat menorehkan catatan rapor yang cukup memuaskan. Realisasi total panen gabah kering giling sepanjang Januari hingga April berhasil mengamankan angka sebesar 24,36 juta ton.
Pencapaian sektor hulu tersebut otomatis mendongkrak total volume beras hasil olahan dalam negeri hingga menembus angka 14,03 juta ton. Hasil produksi pada caturwulan pertama tersebut terbukti masih mampu tumbuh tipis sebesar 0,12 persen dibandingkan tahun lalu.
Meski secara akumulatif awal tahun sempat mencatat kenaikan, lampu kuning sejatinya sudah mulai menyala sejak memasuki bulan April lalu. Kenyataan di lapangan menunjukkan luasan panen riil pada bulan keempat tersebut langsung anjlok ke angka 1,40 juta hektare.
Raihan luasan lahan panen tersebut mengalami penurunan sangat tajam hingga 15,47 persen dari April tahun lalu yang mencapai 1,65 juta hektare. Penurunan drastis ini menjadi hantaman keras yang langsung memengaruhi proyeksi stok pangan nasional untuk periode berikutnya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media