News . 18/06/2026, 13:23 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Kabar duka yang sangat menyayat hati kembali mengguncang jagat transportasi tanah air dan wajib membuat kita semua ekstra waspada. Jalanan protokol yang gahar kini kembali memakan korban jiwa dari kelompok pengguna jalan paling rentan di kota besar.
Jika kamu atau anak-anak sering mengayuh sepeda di jalur utama, sebaiknya segera pelajari risiko mengerikan yang mengintai di aspal hitam. Kelalaian dalam pembenahan fasilitas publik kini terbukti harus dibayar mahal dengan hilangnya nyawa generasi muda.
Indonesia kembali berduka sedalam-dalamnya atas kehilangan nyawa pesepeda yang berujung fatal akibat buruknya manajemen lalu lintas. Seorang pelajar malang bernama Dika Putra Mahardika yang baru berusia 14 tahun harus menutup usia di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung.
Peristiwa naas tersebut terjadi pada Selasa, 16 Juni 2026, saat korban mengayuh sepedanya memasuki jalur padat yang terkenal sangat gahar. Korban seketika tertabrak truk tangki di tengah kepungan volume kendaraan berat serta kecepatan arus lalu lintas yang sangat tinggi.
“Bike to Work Indonesia sangat prihatin atas lambatnya perbaikan sistem yang melindungi pengguna jalan yang rentan. Risiko kecelakaan fatal yang dialami pesepeda, harus dimitigasi dengan sungguh-sungguh,” ujar Ketua Umum B2W Indonesia, Hendro Subroto.
Ketua Umum B2W Indonesia, Hendro Subroto, mengecam keras lambatnya respons pemerintah dalam membenahi fasilitas jalur khusus non-motor. Manajemen keselamatan yang rapuh membuat para pegiat gowes terus bertaruh nyawa setiap kali mereka turun ke jalan raya.
Berdasarkan data resmi Korps Lalu Lintas RI, angka kematian pengguna sepeda kayuh di aspal nasional sudah masuk dalam tahap yang sangat mengkhawatirkan. Pihak kepolisian mencatat ada sebanyak 3.601 kasus kecelakaan sepeda dari total 158.508 insiden lalu lintas di Indonesia berdasarkan payung hukum Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009.
Tragedi yang menimpa almarhum Dika menggenapi catatan kelam berupa 3 kejadian kecelakaan fatal yang menimbulkan korban jiwa sepanjang tahun 2026 ini. Sementara itu, pada tahun 2025 lalu, Road Safety Association Indonesia mencatat riwayat hitam yang lebih mengerikan dengan total 12 orang korban jiwa.
Fenomena berdarah ini menegaskan bahwa kematian para pesepeda di kota-kota besar bukan sekadar peristiwa insidental yang terjadi secara kebetulan. Ini adalah pola risiko yang terus berulang akibat ketidakberpihakan anggaran terhadap infrastruktur keselamatan manusia.
Merespons tragedi berdarah ini, B2W Korwil Bandung langsung bergerak cepat menggalang kekuatan bersama seluruh elemen masyarakat sipil. Mereka mendesak Pemerintah Kota Bandung, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan instansi terkait untuk segera melakukan audit keselamatan total terhadap koridor maut Soekarno-Hatta.
Komunitas menuntut evaluasi mendalam pada titik konflik antara pergerakan kendaraan berat dan para pesepeda yang selama ini terabaikan. Pemerintah harus menyusun rencana matang untuk memberikan perlindungan darurat pada koridor jalan yang memiliki tingkat risiko kecelakaan tinggi.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media