News . 11/05/2026, 13:00 WIB
Penulis : Gatot Wahyu | Editor : Gatot Wahyu
Karawang Bekasi FIN - Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Bekasi tercatat turun menjadi 7,33 persen pada 2026, dari sebelumnya 7,83 persen di 2025. Penurunan sekitar 0,5 persen ini diklaim sebagai sinyal positif membaiknya kondisi ketenagakerjaan di daerah penyangga Jakarta tersebut.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menyebut capaian ini tidak lepas dari berbagai program pemerintah, mulai dari pelatihan vokasi, peningkatan kualitas SDM, hingga reformasi sektor ketenagakerjaan.
Namun, di balik angka tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah penurunan pengangguran benar-benar didorong oleh bertambahnya lapangan kerja formal, atau justru karena lonjakan pekerja di sektor informal?
Secara statistik, seseorang dikategorikan bekerja jika memiliki aktivitas kerja minimal satu jam dalam seminggu. Definisi ini membuat pekerja informal—seperti pengemudi ojek online, kurir, hingga freelancer digital—tetap dihitung sebagai “bekerja”.
Artinya, angka pengangguran bisa saja menurun tanpa diiringi peningkatan signifikan pada sektor industri formal.
Di Kota Bekasi, fenomena ini mulai terlihat jelas. Banyak warga usia produktif yang sebelumnya menganggur kini beralih ke pekerjaan fleksibel berbasis digital karena lebih cepat menghasilkan uang dibanding menunggu lowongan di pabrik atau perkantoran.
Maraknya platform transportasi online menjadi salah satu faktor yang membantu menekan angka pengangguran di perkotaan, termasuk Bekasi.
Banyak korban pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun lulusan baru memilih menjadi mitra pengemudi aplikasi. Fleksibilitas kerja tanpa syarat pendidikan tinggi membuat sektor ini cepat menyerap tenaga kerja.
Di sejumlah wilayah padat seperti Bekasi Timur, Rawalumbu, Pondok Gede hingga Bantargebang, jumlah pengemudi ojek online terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Fenomena ini memunculkan dilema: apakah ini tanda ekonomi membaik, atau sekadar perubahan status dari pengangguran menjadi pekerja informal?
Di sisi lain, peluang kerja formal di Bekasi masih tergolong ketat. Lowongan di sektor manufaktur, ritel modern, dan perkantoran belum mampu mengimbangi jumlah pencari kerja yang terus bertambah setiap tahun.
Selain itu, dampak gelombang PHK di Jawa Barat juga turut memengaruhi pasar kerja di kawasan industri seperti Bekasi.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media