Bisnis . 13/05/2026, 12:36 WIB
Penulis : Gatot Wahyu | Editor : Gatot Wahyu
finco.id - Nilai tukar rupiah kembali membuat publik terkejut. Untuk pertama kalinya, rupiah menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS, memicu kekhawatiran besar terhadap kondisi ekonomi nasional, terutama soal subsidi energi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun langsung bergerak cepat mengkaji dampak serius dari pelemahan ini terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi.
Pada perdagangan Rabu (13/5/2026), rupiah tercatat di Rp17.515 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya ditutup di Rp17.529. Ini menjadi salah satu titik terlemah dalam sejarah nilai tukar Indonesia.
Direktur Jenderal Migas, Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa kondisi ini telah masuk dalam radar utama pemerintah.
Menurutnya, jajaran menteri ekonomi kini tengah melakukan rapat intensif untuk menghitung potensi dampaknya terhadap subsidi energi yang selama ini menjadi penopang masyarakat.
“Pak Menteri bersama jajaran sedang membahas serius kondisi ini. Kita tunggu hasilnya,” ujarnya.
Isu paling panas yang berkembang di masyarakat: apakah harga BBM subsidi akan naik?
Hingga saat ini, pemerintah belum mengambil keputusan. Namun tekanan dari pelemahan rupiah dan lonjakan harga energi global membuat beban subsidi berpotensi membengkak drastis.
“Kita belum ada keputusan. Semua masih dikaji,” tegas Laode.
Di tengah kekhawatiran publik, pemerintah memberi sinyal tegas. Prabowo Subianto sebelumnya telah menginstruksikan agar harga BBM subsidi tidak dinaikkan hingga akhir 2026.
Instruksi ini disampaikan langsung kepada Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, dalam pertemuan di Istana Negara.
“Stok energi kita aman. Atas arahan Presiden, harga BBM subsidi tetap,” tegas Bahlil.
Pelemahan rupiah tak lepas dari gejolak global, mulai dari konflik geopolitik hingga fluktuasi harga energi dunia. Kondisi ini membuat biaya impor energi melonjak dan berpotensi menekan anggaran negara.
Meski pemerintah memastikan stok BBM nasional masih aman, tekanan ekonomi akibat kurs rupiah tetap menjadi ancaman nyata.
Kajian yang dilakukan pemerintah saat ini akan menjadi penentu arah kebijakan ke depan: bertahan dengan subsidi besar atau melakukan penyesuaian?
Pemerintah mengimbau masyarakat tidak panik dan menunggu keputusan resmi. Semua opsi masih dikaji dengan mempertimbangkan stabilitas ekonomi dan daya beli rakyat.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media