News . 20/05/2026, 10:15 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Tekanan terhadap rupiah makin sulit dibendung. Di tengah pelemahan mata uang domestik yang terus menyentuh level terendah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Bank Indonesia (BI) diperkirakan bakal mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.
Prediksi tersebut datang dari ekonom DBS, Radhika Rao. Menurut dia, BI kini lebih fokus menjaga stabilitas nilai tukar dibanding mendorong pertumbuhan melalui pelonggaran kebijakan moneter.
DBS memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,0% dalam rapat kebijakan moneternya hari ini. Langkah itu dinilai penting untuk memperkuat kepercayaan pasar sekaligus meredam tekanan terhadap rupiah.
Radhika Rao menjelaskan, inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan menjadi salah satu faktor utama yang memperberat tekanan terhadap aset-aset domestik Indonesia.
Kondisi tersebut membuat selisih suku bunga antara AS dan Indonesia semakin melebar. Akibatnya, daya tarik aset dalam negeri ikut tertekan dan arus modal berpotensi keluar dari pasar domestik.
“Secara keseluruhan, pelemahan rupiah yang persisten meski intervensi dilakukan secara berkelanjutan, penurunan cadangan devisa, serta pelebaran spread terhadap SRBI mendukung argumentasi untuk kebijakan suku bunga yang lebih ketat,” tulis Rao.
Meski BI sudah melakukan berbagai langkah intervensi, tekanan terhadap rupiah belum juga mereda. Bank sentral diketahui aktif melakukan intervensi di pasar spot demi menjaga stabilitas nilai tukar.
Namun, upaya tersebut belum cukup kuat membalikkan arah pergerakan rupiah. DBS menilai rupiah tetap menjadi salah satu mata uang dengan performa terburuk sepanjang tahun berjalan.
Kondisi ini membuat pelaku pasar mulai menanti langkah konkret dari BI. Kenaikan suku bunga dinilai menjadi sinyal kuat bahwa otoritas moneter serius menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
Data inflasi Amerika Serikat yang lebih panas dari perkiraan turut memperumit situasi. Ketika inflasi AS meningkat, peluang bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi menjadi semakin besar.
Situasi itu otomatis memperlebar gap suku bunga dengan Indonesia. Investor global pun cenderung memilih aset berbasis dolar AS yang dianggap lebih aman dan menawarkan imbal hasil menarik.
Efeknya langsung terasa ke pasar domestik. Rupiah tertekan, sementara aset-aset keuangan Indonesia menghadapi tekanan tambahan dari arus modal asing yang lebih selektif.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media