Waspada! Fenomena El Nino Godzilla Ancam Anak Indonesia, Risiko Stunting dan Penyakit Meningkat
Misteri EL NINO GODZILLA 2026 Terjawab, BMKG Ungkap Fakta MENGEJUTKAN
fin.co.id - Fenomena El Nino ekstrem yang dijuluki “Godzilla” diprediksi membawa dampak serius bagi kesehatan anak di Indonesia. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memperingatkan bahwa kondisi ini dapat meningkatkan risiko stunting, malnutrisi, hingga berbagai penyakit berbahaya pada anak.
Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, Darmawan Budi Setyanto, mengungkapkan bahwa kekeringan panjang akibat El Nino berpotensi memperburuk kondisi gizi anak secara signifikan.
“Prevalensi stunting pada 2022 sebesar 21,6 persen, dan dengan adanya El Nino bisa meningkat hingga 15–25 persen,” ujarnya dalam seminar daring.
Dampak El Nino: Kekeringan Picu Krisis Pangan
El Nino menyebabkan musim kemarau ekstrem yang berujung pada gagal panen dan melonjaknya harga bahan pangan. Situasi ini membuat banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan gizi seimbang, terutama untuk anak-anak.
Akibatnya, risiko yang muncul meliputi:
- Malnutrisi akut dan kronis
- Kekurangan asupan gizi jangka panjang
- Peningkatan kasus stunting
- Penurunan kemampuan kognitif anak
Kondisi ini menjadi ancaman serius karena stunting tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga perkembangan otak dan masa depan anak.
Anak Jadi Kelompok Paling Rentan
Menurut IDAI, anak-anak lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim dibanding orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh:
- Sistem imun yang belum matang
- Kemampuan adaptasi suhu tubuh yang terbatas
- Risiko dehidrasi lebih tinggi
“Anak kehilangan cairan lebih cepat dibandingkan orang dewasa, sehingga lebih mudah terdampak panas ekstrem,” jelas Darmawan.
Ancaman Penyakit Meningkat
Selain masalah gizi, El Nino juga berpotensi memicu lonjakan berbagai penyakit pada anak, di antaranya:
- Diare akibat air tercemar
- Pneumonia (infeksi saluran pernapasan)
- Demam Berdarah Dengue (DBD)
- Malaria
Kekeringan berkepanjangan dapat menurunkan kualitas sanitasi dan mencemari sumber air bersih, sehingga meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan.
Bahkan, diare dan pneumonia masih menjadi penyebab utama kematian balita di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Polusi Udara Perparah Kondisi Anak
Musim kemarau panjang juga meningkatkan risiko kebakaran hutan yang berdampak pada kualitas udara. Paparan partikel halus PM2.5 menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak.
Partikel ini dapat: