Lifestyle . 26/05/2026, 14:10 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Bagi umat Islam yang tidak menjalankan wukuf di Arafah, 9 Dzulhijjah tetap memiliki makna mendalam. Hari ini menjadi momentum kembali mendekat kepada Allah dengan hati yang lebih tenang dan fokus.
Wukuf sendiri berarti berdiri dan fokus sepenuhnya kepada Allah. Nilai ini bisa diterapkan dengan berhenti sejenak dari kesibukan dunia lalu memperbanyak doa dan introspeksi diri.
Hari Arafah juga mengajarkan kesetaraan manusia di hadapan Allah. Semua jemaah haji mengenakan pakaian putih yang sama tanpa memandang status sosial maupun jabatan.
Pesan spiritual tersebut menegaskan bahwa manusia hanyalah hamba yang membutuhkan ampunan dan rahmat Allah. Karena itu, Hari Arafah menjadi waktu terbaik untuk merendahkan hati.
Puasa sunnah pada 9 Dzulhijjah menjadi amalan utama bagi umat Islam yang mampu menjalankannya. Ibadah ini diyakini membawa penghapusan dosa selama dua tahun.
Umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, dzikir, dan munajat kepada Allah sepanjang Hari Arafah. Momentum ini dianggap sebagai waktu paling mustajab untuk memohon berbagai hajat.
Selain doa, umat Muslim juga dianjurkan memperbanyak istighfar serta mengumandangkan takbir. Bacaan takbir menjadi salah satu syiar yang identik menjelang Hari Raya Idul Adha.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah, والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد.”
Hari Arafah juga menjadi waktu tepat untuk memperbanyak sedekah dan amal kebaikan lainnya. Semakin banyak amal shalih yang dilakukan, semakin besar pula harapan mendapat rahmat Allah.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media