News . 07/06/2026, 17:25 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Kabar darurat buat portofolio kamu karena badai ketidakpastian ekonomi global kini resmi menghantam pasar keuangan domestik dengan sangat keras. Kamu yang memiliki aset di pasar modal wajib pasang kuda-kuda ekstra karena volatilitas tinggi sedang mengintai tabungan masa depanmu.
Sentimen negatif global yang bercampur dengan sentimen dalam negeri sukses memicu kepanikan massal di kalangan pemodal dalam sepekan terakhir. Jika kamu tidak segera merapikan strategi investasi, potensi kerugian besar akibat ambrolnya nilai aset finansial bisa saja langsung menimpa keuanganmu.
Awan hitam pekat resmi menyelimuti bursa saham Indonesia setelah mencatatkan performa perdagangan pekan pertama Juni yang sangat mengerikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terlempar jatuh dan ambles sedalam 4,20% hingga terpuruk ke level 5.594 pada penutupan hari Jumat (5/6).
Kejatuhan brutal ini membuat indeks kebanggaan tanah air tersebut kehilangan lebih dari 500 poin jika kita bandingkan dengan posisi pekan lalu di level 6.127. Kondisi makin mencekam setelah investor asing terpantau melakukan aksi kabur massal dengan membukukan arus modal keluar (outflow) mencapai USD204 juta.
Gelombang aksi jual reksa dana dan saham melanda hampir seluruh papan perdagangan dengan intensitas yang sangat masif dan agresif. Sektor Transportasi & Logistik mencatatkan rapor paling hitam setelah hancur lebur 14,08%, disusul sektor Industri yang ikut longsor sebesar 13,32%.
Penurunan tajam ini otomatis menyeret indeks saham likuid IDX30 yang merosot dalam hingga mencapai angka 9,07% dalam hitungan hari saja. Sentimen buruk ini bahkan menular ke pasar aset digital, di mana mata uang kripto Bitcoin harus ikut tersungkur dengan koreksi tajam sebesar 14,41%.
Tekanan berat ini bersumber dari rilis data ekonomi negara-negara raksasa dunia yang menunjukkan arah pergerakan yang sangat bervariasi. Amerika Serikat sebenarnya melaporkan ekspansi PMI manufaktur dan jasa periode Mei yang lebih kuat, serta lonjakan lowongan kerja per April ke level tertinggi sejak November 2024.
Namun, kawasan Eropa justru melaporkan kenaikan inflasi ke level tertinggi sejak September 2023 akibat lonjakan biaya energi yang sangat gila-gilaan. Sementara itu dari Asia, aktivitas manufaktur dan nonmanufaktur China mulai stagnan, berbarengan dengan belanja modal kuartal I 2026 Jepang yang mencetak pertumbuhan 0%.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini menjadi motor utama yang terus menggerakkan premi risiko ketidakpastian global ke level tertinggi. Fokus dunia saat ini tertuju penuh pada Selat Hormuz, di mana konflik bersenjata mengancam jalur pelayaran dan pasokan energi internasional.
Rantai pasokan minyak mentah dunia terancam putus karena proses negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran masih belum menemui titik terang. Dampaknya, harga minyak mentah dunia langsung melonjak naik 2,63% pekan ini, menemani komoditas batu bara yang ikutan terbang sebesar 3,34%.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media