News . 07/06/2026, 10:44 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Wacana penyesuaian tarif Transjakarta kembali mengemuka, dan kali ini, nominalnya membuat dahi berkerut. Tarif yang selama ini nyaman di kantong, Rp3.500, berpotensi melonjak hingga Rp5.000, bahkan Rp7.000 per penumpang. Keputusan ini, jika terealisasi, bukan sekadar angka pada tiket, melainkan sebuah gebrakan yang bisa mengubah wajah transportasi publik di Ibu Kota secara fundamental.
Selama dua dekade terakhir, tarif Transjakarta menjadi semacam jangkar yang menjaga biaya mobilitas warga Jakarta tetap bersahabat. Namun, di balik tarif yang terkesan murah ini, tersembunyi cerita lain: beban subsidi yang terus membengkak dan memberikan tekanan signifikan pada anggaran daerah. Ini bukan lagi soal angka, tapi soal keberlanjutan dan kesehatan finansial kota.
Bayangkan ini: untuk tahun anggaran 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan dana sebesar Rp4,77 triliun khusus untuk menopang transportasi umum. Angka ini sangat besar, memakan porsi 5,8 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta yang mencapai Rp81,32 triliun.
Dana raksasa ini terbagi untuk berbagai moda, dengan Transjakarta menjadi penerima terbesar, yaitu Rp3,75 triliun. MRT Jakarta kebagian Rp700 miliar, sementara LRT Jakarta mendapat jatah Rp325,28 miliar. Angka-angka ini menunjukkan komitmen Pemprov DKI yang luar biasa dalam menjaga agar warga tetap bisa bergerak.
Namun, besarnya subsidi ini juga menimbulkan pertanyaan serius. Apakah skema ini berkelanjutan dalam jangka panjang? Kenaikan tarif menjadi salah satu solusi yang kini tengah dipertimbangkan secara matang.
Secara nominal, tarif Transjakarta saat ini memang tergolong sangat murah, bahkan bersaing dengan angkutan umum di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Namun, para pakar menilai nilai sebenarnya dari tarif tersebut jauh melampaui angka yang tertera di struk.
Jika kita melihat jangkauan koridor yang luas, kemudahan integrasi antar rute, jaringan bus pengumpan (feeder) yang terus berkembang, serta efisiensi waktu perjalanan yang ditawarkan, maka tarif Rp3.500 itu memberikan nilai ekonomi yang sangat tinggi bagi penggunanya.
Di sisi lain, kenyataan pahitnya adalah biaya operasional yang ditanggung Pemprov DKI per penumpang bisa mencapai lebih dari Rp9.000. Ini berarti, setiap kali satu penumpang naik Transjakarta, pemerintah harus menanggung selisih sekitar Rp5.500. Kenaikan tarif dianggap sebagai langkah strategis untuk menciptakan keseimbangan baru, sebuah titik temu antara menjaga keberlanjutan transportasi publik dan melindungi daya beli masyarakat.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media