Bisnis . 08/06/2026, 22:02 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Kabar darurat yang sangat mencekam resmi menghantam seluruh isi dompet dan portofolio investasi kamu tanpa ampun pada perdagangan hari ini. Kamu yang masih menyimpan aset di pasar modal atau mengoleksi mata uang domestik wajib bersiap menghadapi badai likuiditas yang sangat mengerikan.
Aksi jual massal (global sell-off) melanda bursa saham negara berkembang atau emerging market Asia hingga terbenam sangat dalam di zona merah yang mengerikan. Kehancuran sistemik ini memaksa para pengelola dana kakap untuk menarik uang mereka secepat mungkin demi mengamankan modal yang tersisa.
Indonesia menjadi sorotan utama dan pusat kepanikan para pemodal internasional setelah lantai bursa domestik mengalami pendarahan yang sangat hebat. Indeks Harga Saham Gambungan (IHSG) langsung ambruk lebih dari 4% dan terlempar ke level terendah sejak November 2020 silam.
Akumulasi kejatuhan indeks kebanggaan tanah air sepanjang tahun berjalan ini sungguh bikin merinding karena sudah terpangkas melebihi angka 37%. Guncangan keras pada kepercayaan investor ini otomatis memicu kepanikan luar biasa di kalangan pelaku pasar modal dalam negeri.
Tekanan di pasar saham langsung merembet ke sektor nilai tukar hingga membuat mata uang garuda kehabisan darah di hadapan sang perkasa greenback. Mata uang rupiah terjun bebas dan mencetak rekor terendah baru sepanjang sejarah dalam perdagangan hari ini pada level Rp18.190 per dolar AS.
Kondisi pasar obligasi juga tidak kalah menegangkan setelah imbal hasil (yield) surat utang pemerintah tenor 10 tahun melonjak keras ke level 7,142%. Lonjakan yield ke titik tertinggi dalam 14 bulan terakhir ini menjadi bukti nyata bahwa investor asing sedang melepas aset Indonesia secara masif.
Rupiah secara tragis resmi menyandang predikat sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di seluruh kawasan Asia sepanjang tahun ini. Para penanam modal global mulai meragukan prospek ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini akibat menumpuknya sentimen negatif dari dalam negeri.
Kepercayaan pasar hancur akibat kekhawatiran memburuknya kondisi fiskal negara, perubahan kebijakan ekspor komoditas, hingga rencana peninjauan kelayakan investasi oleh indeks MSCI. Risiko adanya intervensi politik terhadap independensi bank sentral juga membuat para pemodal enggan menahan aset mereka lebih lama.
Rapor merah membara ini diperparah oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang rilis Jumat lalu dengan hasil yang jauh melampaui ekspektasi pasar. Data tersebut langsung memicu spekulasi kuat bahwa bank sentral The Federal Reserve bakal kembali menaikkan suku bunga acuan mereka.
Dampaknya, reli panjang saham berbasis kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya perkasa langsung kehilangan bensin dan berbalik arah menjadi aksi jual brutal. Indeks KOSPI Korea Selatan hancur lebur dengan kejatuhan ekstrem 8,3% sementara bursa saham Taiwan sempat ambles hingga 6% dalam sehari.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media