Bisnis . 08/06/2026, 22:02 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
"Ini adalah penyesuaian valuasi yang memang sudah lama tertunda, bukan akhir dari siklus pertumbuhan. Sinyal permintaan fundamental masih tetap kuat," kata Shier Lee Lim menenangkan kepanikan pasar keuangan global.
Faktor eksternal semakin tidak terkendali setelah konflik bersenjata di Timur Tengah mengamuk lagi dan sudah berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Kabar serangan baru Israel ke wilayah Lebanon serta laporan insiden ledakan misterius di Teheran langsung menyulut api di pasar energi.
Harga minyak mentah dunia seketika melonjak tinggi di atas USD4 per barel hanya dalam hitungan jam pada perdagangan hari Senin ini. Kenaikan harga minyak ini memicu kekhawatiran inflasi global akan kembali meledak di negara-negara net-importir minyak seperti Indonesia.
Penderitaan kawasan Asia semakin lengkap setelah bencana alam berskala besar ikut mengguncang stabilitas wilayah regional pada hari yang sama. Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,8 mengguncang wilayah lepas pantai Pulau Mindanao yang terletak di Filipina selatan.
Otoritas seismologi setempat langsung mengeluarkan peringatan dini tsunami di sejumlah negara kawasan yang membuat aktivitas ekonomi semakin lumpuh. Akibat rentetan sentimen mengerikan ini, bursa Singapura melorot 1,7%, bursa Filipina jatuh 1%, sedangkan bursa Malaysia dan Thailand kompak melemah 0,6%.
Melihat situasi pasar yang sedang membara, langkah terbaik buat kamu adalah menahan diri dari tindakan spekulatif yang berisiko tinggi. Amankan likuiditas tunai kamu sekarang juga sebelum badai inflasi dan kejatuhan aset finansial domestik ini menggerus habis kekayaanmu. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media