News . 17/06/2026, 16:46 WIB
Penulis : Gatot Wahyu | Editor : Gatot Wahyu
Pertama, sebanyak 1.461.169 lansia dan penyandang disabilitas tunggal yang hidup dalam kemiskinan berpotensi tidak menerima bantuan langsung yang berkelanjutan.
Anggaran sebesar Rp3,5 triliun yang diperlukan untuk program ini belum tersedia.
Kondisi ini akan membuat mereka semakin rentan terhadap kesulitan hidup sehari-hari.
Kedua, 420.000 keluarga terancam tidak mendapatkan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT).
Ketiadaan anggaran senilai Rp1,01 triliun untuk program krusial ini akan berdampak langsung pada ketahanan pangan mereka.
Bagaimana mungkin keluarga prasejahtera dapat memastikan ketersediaan pangan jika bantuan tunai untuk membeli kebutuhan pokok terhenti?
Ketiga, 270.000 anak yatim piatu berpotensi tidak mendapatkan bantuan atensi rehabilitasi sosial.
Anggaran sebesar Rp648 miliar menjadi kunci agar mereka tetap mendapatkan dukungan untuk tumbuh kembang yang layak.
Daftar panjang potensi dampak kekurangan anggaran masih terus berlanjut.
Tak hanya penerima manfaat langsung, tenaga garis depan pelayanan sosial pun terancam.
Sebanyak 5.133 Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan berpotensi tidak menerima tali asih yang selama ini menjadi apresiasi atas kerja keras mereka.
Keberadaan mereka sangat vital dalam menjangkau masyarakat yang membutuhkan di tingkat kecamatan.
Selanjutnya, 390.000 keluarga penerima manfaat Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PPSE) dapat tidak memperoleh anggaran untuk program graduasi.
Program graduasi ini krusial untuk membantu keluarga keluar dari lingkaran kemiskinan secara mandiri.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media