Bisnis . 18/06/2026, 15:48 WIB

Suku Bunga BI Resmi Naik 5,75 Persen! Amankan Asetmu Sekarang Sebelum Terlambat

Penulis : Sigit Nugroho  |  Editor : Sigit Nugroho

Kondisi kuartal kedua ini berbanding terbalik dengan performa jeblok pada triwulan I 2026 yang sempat mencatatkan aliran keluar modal asing sebesar 0,8 miIiar dolar AS. Sekarang, momentum pembalikan modal tersebut wajib kamu manfaatkan sebelum pasar kembali jenuh.

Intaian Konflik Timur Tengah: Pertumbuhan Dunia Terancam Melambat

Bank Indonesia terpaksa mengambil jalur pengetatan moneter ini karena mengamati ketidakpastian global yang masih bertengger di level sangat tinggi. Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang meletus sejak akhir Februari 2026 menjadi pemicu utama instabilitas ekonomi dunia saat ini.

Meskipun ketegangan sedikit mereda pasca kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran pada 14 Juni 2026, volatilitas moneter global masih jauh dari kata selesai. Sinyal bahaya masih menyala terang karena dinamika perundingan kedua negara besar tersebut masih berjalan sangat dinamis di lapangan.

Konflik berkepanjangan ini telah merusak rantai pasok perdagangan internasional serta mengganggu jalur distribusi barang dan kelancaran produksi global. Imbas fatalnya, para pengamat memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 akan tertahan di level rendah sebesar 3,0 persen saja.

Situasi semakin rumit karena perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia tersebut berjalan beriringan dengan lonjakan tekanan inflasi global hingga menyentuh angka 4,4 persen. Krisis stagflasi global ini akhirnya memaksa sejumlah bank sentral dunia untuk kompak menaikkan suku bunga mereka demi menjinakkan harga-harga.

Ancaman The Fed dan Yield US Treasury yang Masih Membara

Bank Indonesia kini terus memantau dengan ketat potensi kenaikan suku bunga The Fed (Fed Funds Rate) dalam waktu dekat. Prospek inflasi Amerika Serikat yang merangkak lebih tinggi menjadi alasan kuat bagi bank sentral AS untuk tetap mempertahankan sikap hawkish mereka.

Di sisi lain, imbal hasil atau yield US Treasury juga masih betah bertengger di level tertinggi yang sangat kompetitif hingga memicu kekhawatiran pelaku pasar. Per tanggal 17 Juni 2026, yield surat utang AS tenor 10 tahun perkasa di level 4,49 persen, sedangkan tenor dua tahun bertengger di angka 4,18 persen.

Keperkasaan yield obligasi Amerika Serikat tersebut berhasil mendongkrak penguatan indeks dolar AS secara masif di pasar global. Dampak buruknya, aliran modal global enggan mengalir deras ke negara berkembang dan justru memilih kabur mencari perlindungan ke aset-aset aman (safe haven) di negara maju.

Guna menghadapi badai eksternal yang belum mereda ini, Perry Warjiyo menyerukan penguatan respons serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang lebih agresif. Pemerintah dan bank sentral harus bersatu padu memperkuat ketahanan eksternal demi menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi domestik yang inklusif. (*)

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com