Bisnis . 19/06/2026, 16:47 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Kabar mengejutkan datang dari ujung timur Indonesia, tepatnya di Kepulauan Tanimbar, Maluku. Selama ini, para petani di Pulau Selaru dan Pulau Yamdena menghadapi kenyataan pahit: hanya bisa memanen hasil bumi mereka setahun sekali. Bayangkan betapa sulitnya hidup dengan hanya satu kali panen di tengah tantangan alam yang luar biasa di wilayah perbatasan ini. Namun, kini ada harapan baru yang membuncah!
PT Hutama Karya (Persero) atau yang akrab disapa Hutama Karya, baru saja menyelesaikan proyek Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang sungguh luar biasa. Proyek ini bukan sekadar pembangunan biasa, melainkan sebuah gebrakan teknologi yang dirancang khusus untuk mengatasi masalah klasik petani di daerah terpencil.
Sebelumnya, kegiatan bercocok tanam di kedua pulau tersebut, terutama untuk tanaman padi, sangat bergantung pada musim hujan. Keterbatasan sumber air permukaan membuat mereka tak punya banyak pilihan. Namun, kehadiran 39 titik sumur bor JIAT kini mengubah peta permainan sepenuhnya.
Setiap titik JIAT mampu mengairi lahan seluas 12 hektare. Dengan demikian, total lahan pertanian yang kini terjangkau mencapai 468 hektare. Ini artinya, potensi peningkatan frekuensi panen dari yang tadinya hanya satu kali per tahun, kini bisa melonjak menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun!
Tentu saja, dampak langsungnya sangat terasa bagi perekonomian petani lokal. Kehidupan mereka yang sebelumnya penuh ketidakpastian akibat musim, kini mulai bisa direncanakan dengan lebih baik.
Yang membuat proyek ini semakin istimewa adalah inovasi teknologinya. Berbeda dengan sistem irigasi konvensional yang seringkali membutuhkan pompa besar, JIAT yang dibangun Hutama Karya justru meniadakan pompa sentrifugal.
Bagaimana caranya? Sistem ini cerdas! Menggunakan menara air (water tower) yang ketinggiannya disesuaikan dengan kondisi elevasi di lapangan, aliran air ke lahan pertanian sepenuhnya mengandalkan sistem gravitasi.
Energi yang digunakan pun sangat ramah lingkungan. Pompa submersible yang bertugas mengangkat air dari kedalaman rata-rata 50 hingga 60 meter melalui sumur bor, digerakkan oleh panel surya (solar panel) dan inverter. Air kemudian dialirkan melalui jaringan pipa HDPE menuju kotak pembagi, dan akhirnya sampai ke lahan pertanian.
Berbagai komoditas unggulan seperti padi, jagung, serta aneka produk hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan akan merasakan manfaat luar biasa dari sistem irigasi modern ini.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media