Jumat, 19 Juni 2026
--°C --
-- · --
Bisnis

Petani di Perbatasan RI Terancam Tak Panen Lagi? Hutama Karya Bikin Gebrakan yang Mengubah Segalanya!

SN
Tim Redaksi
19/06/2026, 16:47 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi karawangbekasi.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Petani di Perbatasan RI Terancam Tak Panen Lagi? Hutama Karya Bikin Gebrakan yang Mengubah Segalanya!

Tantangan di Garis Depan

Pembangunan proyek di pulau terluar NKRI, seperti di Kepulauan Tanimbar, tentu saja bukan tanpa tantangan. Hutama Karya harus berhadapan dengan kendala pengadaan material dan peralatan yang harus didatangkan dari luar pulau.

Selain itu, identifikasi titik-titik lokasi yang berpotensi memiliki sumber air tanah memadai juga menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan.

Namun, setelah konstruksi selesai, peran Hutama Karya belum berakhir. Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku akan memberikan pelatihan dan pendampingan kepada para petani. Penyerahan manual operasi sistem JIAT juga akan dilakukan setelah proses serah terima kepada Pemerintah Daerah rampung.

Advertisement

Harapan Baru Para Petani

Dampak JIAT ini sudah mulai dirasakan di tingkat petani. Di Desa Kandar, Pulau Selaru, lahan pertanian di kawasan Abatus Nitas yang sebelumnya hanya mampu menghasilkan sekitar dua puluh ton gabah dalam satu musim tanam per tahun, kini memiliki peluang besar.

John K. Halurun, Ketua Kelompok Tani Desa Kandar, mengungkapkan rasa syukurnya. "Kami sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden atas perhatiannya kepada para petani di Indonesia, khususnya kami di Maluku, di Selaru, di Kandar," ujarnya penuh semangat.

"Dengan hadirnya JIAT ini, kami berharap bisa panen hingga tiga kali setahun, dan semoga harapan Bapak Presiden untuk para petani di seluruh Indonesia pun bisa terwujud," tambahnya, mewakili seluruh petani di desanya.

Komitmen Nasional untuk Ketahanan Pangan

Proyek JIAT di Maluku ini sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pekerjaan Umum dalam memperkuat ketahanan air nasional. Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa pengembangan JIAT sangat penting untuk menjaga keberlanjutan suplai air, terutama di daerah-daerah yang sangat bergantung pada curah hujan.

Fokus program JIAT ini memang diarahkan pada wilayah-wilayah sentra produksi pangan, namun juga diperluas ke daerah-daerah lain di luar Jawa. Tujuannya jelas: meningkatkan intensitas tanam dan menjaga stabilitas produksi beras nasional di tengah ancaman perubahan iklim.

Plt. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya (Persero), Hamdani, menegaskan komitmen perusahaan. "Pembangunan JIAT di Kepulauan Tanimbar ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Ini adalah jawaban atas kebutuhan nyata petani di pulau terluar yang selama ini hanya bisa panen sekali setahun," tegasnya.

"Dengan teknologi irigasi berbasis energi surya dan sistem gravitasi yang kami terapkan, kami berharap para petani di Pulau Selaru dan Pulau Yamdena dapat menikmati hasil panen dua hingga tiga kali per tahun. Hutama Karya terus berkomitmen untuk hadir memberikan solusi infrastruktur yang berkelanjutan, bahkan di wilayah yang paling menantang sekalipun," tutup Hamdani, penuh optimisme. (*)

Bagikan Artikel
Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis
FIN Biro Karawang Bekasi