DPRD Kabupaten Bekasi Bongkar Dugaan Pencemaran Laut Tarumajaya, Hasil Tangkapan Nelayan Anjlok hingga 70 Persen
Nelayan di Tarumajaya - Dok. ANTARA -
Dari sekitar 60 nelayan pemburu kerang di Tarumajaya, kini hanya belasan orang yang masih bertahan. Mereka tetap melaut bukan karena hasilnya menjanjikan, melainkan karena tidak memiliki pilihan pekerjaan lain.
Kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan anak membuat sebagian nelayan memilih mencari pekerjaan alternatif. Ada yang menjadi buruh kasar, pemulung hingga kuli panggul.
"Demi bertahan hidup, teman-teman saya terpaksa beralih profesi menjadi buruh kasar bahkan pemulung. Ada yang jadi kuli panggul. Saya sempat dua minggu menganggur, mencari kerja serabutan," ucap Samsur.
Nelayan Minta Pemerintah Bertindak Serius
Nelayan lainnya, Sarman, menilai kenaikan harga bahan bakar maupun bahan pangan bukan persoalan utama. Menurutnya, ancaman terbesar justru hilangnya sumber daya laut yang selama ini menopang ekonomi keluarga.
Sarman mengatakan nelayan meyakini pencemaran berasal dari aktivitas industri. Namun, mereka tidak ingin menunjuk perusahaan tertentu karena kawasan pesisir Tarumajaya dikelilingi banyak pabrik sehingga sumber pencemar harus dipastikan melalui penyelidikan menyeluruh.
Ia berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kondisi yang dihadapi nelayan. Selain itu, perusahaan di sekitar pesisir juga diminta tidak membuang limbah industri ke laut.
"Mohon Pemerintah Kabupaten Bekasi, Pak Gubernur Jawa Barat, tengoklah nasib kami. Pak Presiden juga katanya memperhatikan nasib petani serta nelayan karena dianggap tulang punggung ekonomi," kata Sarman. (*)