Bisnis . 11/05/2026, 05:31 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Di dalam negeri, tekanan eksternal turut memengaruhi nilai tukar rupiah dan pasar obligasi pemerintah. Rupiah sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di posisi Rp17.443 per dolar AS sebelum akhirnya menguat tipis ke Rp17.373 saat penutupan perdagangan.
Ashmore menjelaskan pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor musiman, mulai dari pembayaran utang luar negeri hingga musim pembagian dividen yang meningkatkan kebutuhan dolar AS di pasar domestik.
Meski demikian, data ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 tercatat lebih tinggi dari perkiraan dan menjadi yang tertinggi sejak kuartal III-2022. Konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama pertumbuhan tersebut.
Sementara itu, inflasi tahunan turun lebih dalam dari ekspektasi dan tetap berada dalam target bank sentral. Kenaikan harga pangan dan perumahan juga dinilai lebih moderat dibanding periode sebelumnya.
Indonesia juga masih mencatat surplus perdagangan pada Maret 2026, meski nilainya lebih rendah dari perkiraan pasar. Ashmore menyebut kondisi itu terjadi seiring penurunan ekspor dan peningkatan impor.
Di tengah kondisi pasar yang belum stabil, Ashmore mengingatkan investor agar tidak hanya bergantung pada satu jenis aset. Diversifikasi dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga ketahanan portofolio di tengah tingginya volatilitas global.
“Kami menilai investor sebaiknya melakukan diversifikasi antar kelas aset, wilayah geografis, dan mata uang, dengan fokus pada strategi aktif di aset berkualitas tinggi dan likuid,” tulis Ashmore.
Perusahaan investasi tersebut merekomendasikan eksposur pada strategi Global EM Equity Sharia dan Sukuk sebagai alternatif yang dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi portofolio investor di tengah tekanan pasar.
Ashmore juga menyoroti langkah pemerintah Indonesia yang masih menjaga stabilitas pasar melalui intervensi dan instrumen seperti SRBI. Dalam lelang terbaru, yield SRBI masih ditawarkan cukup tinggi untuk menarik arus modal asing meski mulai turun ke level 6,4 persen.
Sejalan dengan membaiknya sentimen obligasi domestik, yield Surat Berharga Negara tenor dua tahun turun 15 basis poin menjadi 6,28 persen. Sementara tenor 10 tahun turun 34 basis poin menjadi 6,60 persen dari level puncaknya.
Meski tekanan global belum mereda, Ashmore menilai peluang investasi tetap terbuka selama investor mampu memilih aset yang tepat dan menerapkan strategi yang disiplin di tengah dinamika pasar dunia. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media