Pasar Global Masih Bergejolak, Ashmore Soroti Dampak Konflik AS-Iran terhadap IHSG dan Rupiah
Ashmore menilai konflik AS-Iran masih menekan IHSG, rupiah, dan obligasi Indonesia di tengah volatilitas pasar global.
Karawang Bekasi FIN - Ketidakpastian global kembali membayangi pasar keuangan. PT Ashmore Asset Management Indonesia menilai volatilitas pasar masih tinggi seiring memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran yang berdampak langsung pada pergerakan aset berisiko, harga minyak, hingga tekanan terhadap rupiah dan obligasi pemerintah Indonesia.
Dalam laporan Weekly Commentary yang dirilis akhir pekan ini, Ashmore menyoroti sejumlah sentimen global dan domestik yang memengaruhi arah pasar selama pekan pertama Mei 2026. Salah satu perhatian utama datang dari situasi di Timur Tengah, khususnya terkait belum pulihnya kondisi Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
IHSG Melemah di Tengah Tekanan Global
Bursa saham Indonesia menutup perdagangan Jumat (8/5/2026) dengan koreksi cukup dalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 2,86 persen ke level 6.969, meski masih sedikit lebih tinggi dibanding posisi pekan sebelumnya di level 6.957.
Di tengah pelemahan pasar saham domestik, investor asing justru tercatat membukukan arus dana masuk sebesar USD48 juta sepanjang pekan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar Indonesia masih menarik perhatian investor, meski tekanan eksternal terus meningkat.
Ashmore mencatat sektor Infrastruktur dan Konsumer Non-Siklikal menjadi penopang utama pasar dengan kenaikan masing-masing sebesar 5 persen dan 2,10 persen. Sebaliknya, sektor Transportasi & Logistik serta Energi mengalami tekanan paling besar setelah turun masing-masing 5,74 persen dan 5,72 persen.
Di pasar global, indeks Nikkei Jepang mencatat penguatan tertinggi sebesar 5,38 persen, disusul Nasdaq Composite yang naik 2,75 persen. Sementara itu, harga minyak mentah justru terkoreksi 7,63 persen dan harga batu bara turun 1,74 persen.
Konflik AS-Iran Jadi Faktor Penentu Sentimen Pasar
Ashmore menilai pasar saat ini masih sangat sensitif terhadap perkembangan konflik antara AS dan Iran. Meski kedua negara tengah membahas kerangka kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz, bentrokan militer masih terus terjadi.
“Premi risiko tetap tinggi karena pasar menimbang optimisme negosiasi damai dengan kenyataan bahwa Selat Hormuz masih efektif tertutup,” tulis Ashmore dalam laporannya.
Sejak AS meluncurkan “Project Freedom”, lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun drastis. Pada periode 2 hingga 7 Mei 2026, hanya sekitar 9 hingga 15 kapal yang melintas setiap hari. Jumlah itu jauh di bawah rata-rata normal yang mencapai 120 hingga 140 kapal per hari sebelum konflik meningkat.
Kondisi tersebut membuat pasar energi global tetap berada dalam tekanan. Harga minyak Brent masih bertahan di kisaran USD100 per barel dan bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik terbaru.
Ashmore juga menilai pasar masih mengantisipasi risiko inflasi global yang lebih tinggi. Hal itu tercermin dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury.
Yield obligasi AS tenor dua tahun bertahan di sekitar 3,9 persen, sedangkan tenor 10 tahun berada di level 4,4 persen. Menurut Ashmore, kondisi ini dipengaruhi sikap hati-hati pejabat Federal Reserve yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir tahun.