Sederet Temuan KNKT Tragedi Tabrakan Maut KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur
Video Detik-Detik Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL, Gerbong Wanita Hancur Parah
Upaya pengereman ini dilakukan cukup jauh sebelum titik tabrakan terjadi.
"Tapi sebetulnya masinis (KA Argo Bromo) itu sudah mulai ngerem di 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan," ungkap Soerjanto.
Fakta ini sempat mengejutkan Ketua Komisi V DPR RI.
"Sebentar pak, ini 1,3 kilo sudah ngerem?" tanya Lasarus tidak percaya.
"Sudah," jawab Soerjanto mengonfirmasi.
Ini menunjukkan bahwa ada upaya untuk mengurangi kecepatan kereta sebelum benturan terjadi.
Sayangnya, pengereman tersebut ternyata tidak maksimal.
4. Instruksi "Rem Dikit-dikit" dari Pusat Kendali
Lalu, mengapa pengereman tidak dilakukan secara maksimal?
KNKT mengungkap adanya instruksi dari Pusat Kendali (PK) kepada masinis KA Argo Bromo Anggrek.
Masinis hanya diinstruksikan untuk melakukan pengereman perlahan atau "rem dikit-dikit" sambil terus membunyikan klakson atau semboyan 35.
"Jadi masinis tidak melakukan pengereman maksimum karena informasi yang diterima dari PK Timur rem dikit-dikit dan sambil bunyikan klakson," kata Soerjanto.
Informasi yang diterima masinis dari pusat kendali adalah telah terjadi tabrakan antara kereta dengan taksi listrik di JPL 85.
"Tapi karena dia taunya dikomunikasi di dari pusat kendali, ada temperan di JPL 85, kamu berjalan direm dikit-dikit dan banyak-banyak semboyan 35, artinya banyak-banyak klakson Pak.
Jadi masinis tidak melakukan pengereman maksimum," jelasnya.