Sederet Temuan KNKT Tragedi Tabrakan Maut KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur
Video Detik-Detik Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL, Gerbong Wanita Hancur Parah
"Jadi di Stasiun Bekasi Timur, ketika petugas PPKA di Stasiun Bekasi, melangsungkan KA Bromo Anggrek, Stasiun Bekasi hanya membuat jalur tanggungjawabnya sampai 14T (Sebelum Bekasi Timur)," jelas Soerjanto.
Akibatnya, sistem tetap memberikan sinyal hijau kepada KA Argo Bromo Anggrek meskipun terdapat KRL di jalur Bekasi Timur.
"Itu adalah yang ada di meja Pelayanan, sedangkan ada kereta di 104BT itu tetap memberikan aspek warna hijau di stasiun Bekasi, jadi Kereta Bromo Anggrek akan berjalan langsung sesuai aspek sinyal berwarna hijau di Bekasi," lanjutnya.
KNKT masih mendalami mengapa desain sistem ini dibuat sedemikian rupa.
7. Pusat Kendali KA Argo Bromo dan KRL Ternyata Berbeda
Persoalan komunikasi antarpusat kendali juga menjadi sorotan KNKT.
Menurut Soerjanto, KRL dan KA Argo Bromo Anggrek berada di bawah kendali pusat komunikasi yang berbeda, yang memperlambat respons penanganan.
"Memang ketika diberikan komunikasi dari PK Timur, itu ada jeda karena pertama dari Commuter Line yang melaporkan terjadi tabrakan itu, itu PK Selatan, sementara yang Argo Bromo Anggrek ini ada di PK Timur, itu 2 pengendali yang berbeda, ini ada jeda waktu juga, jadi di sini salah satu yang harus diperbaiki," beber Soerjanto.
Perbedaan jenis radio komunikasi yang digunakan masing-masing kereta juga memperumit situasi.
KA CL 5181 menggunakan Radio Tait (PK Selatan), KA CL 5568A menggunakan Radio Sepura (PK Selatan), sementara KA 4B Argo Bromo Anggrek menggunakan Radio Lok (PK Timur).
Alur komunikasi harus melewati beberapa tahapan sebelum informasi sampai ke masinis, yang menyebabkan jeda waktu yang signifikan.
8. KNKT: Kombinasi Masalah Kompleks dan Kondisi Tidak Aman
Sebagai penutup paparannya, KNKT menilai kecelakaan ini bukanlah akibat satu faktor tunggal.
Ada banyak kondisi yang saling berkaitan dan menciptakan situasi berbahaya.
"Ini yang juga perlu ada perbaikan ya, jadi salah satu penyebabnya selain ada masalah sinyal di Bekasi yang tidak bisa mendeteksi adanya 5568 (KRL) di Bekasi timur, itu juga ada 1 kondisi yang unsafe di kondisi itu, selain itu ada kondisi distraksi dari sekitarnya pasar dan perumahan di lokasi sinyal tersebut, yang ketiga masalah komunikasi itu," kata Soerjanto.