News . 26/05/2026, 15:00 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Kecelakaan maut kereta api di kawasan Bekasi Timur kembali menggegerkan publik dan membuka borok sistem keselamatan perkeretaapian Indonesia. Tragedi mengerikan ini membuktikan bahwa pengamanan rute transportasi massal kita masih sangat bergantung pada komunikasi manual yang super lambat.
Ekonom sekaligus pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, membongkar celah bahaya dalam sistem pengamanan perjalanan kereta tersebut. Ia menyampaikan peringatan keras ini setelah membedah laporan awal Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) di Gedung DPR, Kamis, 21 Mei 2026.
Insiden mencekam ini bermula pada Senin malam, 27 April 2026, tepat pukul 20.48 WIB saat kondisi jalur sedang sibuk. Sebuah taksi listrik tiba-tiba menabrak KRL Commuter Line PLB 5181 dan memicu kekacauan fatal di area lintasan Stasiun Bekasi Timur.
Hanya berselang dua menit, pengatur lalu lintas justru memberikan sinyal hijau mematikan kepada KA Argo Bromo Anggrek. Kereta jarak jauh ini terus melaju kencang memasuki area operasi yang sama persis dengan lokasi kecelakaan pertama.
Puncak tragedi akhirnya pecah pada pukul 20.52 WIB saat KA Argo Bromo Anggrek menghantam keras ekor KRL Commuter Line PLB 5568. Tabrakan horor ini langsung merenggut nyawa 16 penumpang KRL yang masih terjebak di dalam gerbong kereta yang berhenti.
Achmad menilai jeda waktu tiga menit tersebut sebagai ruang kritis penentu hidup dan mati para penumpang tidak berdosa. Waktu sesingkat itu seharusnya langsung mengaktifkan mekanisme pengereman darurat otomatis jika sistem keselamatan benar-benar berfungsi canggih.
Namun, petugas pengendali harus membuang waktu berharga untuk mengoper informasi bahaya secara berjenjang dari satu wilayah ke wilayah lain. Prosedur birokrasi komunikasi lapis demi lapis ini terbukti terlalu lambat untuk menyelamatkan masinis dari situasi super genting.
Sistem keselamatan modern seharusnya langsung mengunci perjalanan dan mengubah sinyal menjadi merah saat sistem mendeteksi anomali rute. Teknologi otomatis juga wajib mengirimkan peringatan serentak kepada seluruh petugas tanpa harus menunggu komando manusia sama sekali.
Kelemahan sistemik ini semakin mempertegas masalah tanggung jawab kelembagaan yang terkesan saling lempar antar instansi pemerintah. KNKT bahkan mencatat 283 rekomendasi keselamatan sejak 2015 seolah menguap tanpa ada satu pun institusi yang berani memegang kendali utama.
Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menguak fakta bahwa pusat kendali wilayah selatan dan timur mengalami miskomunikasi yang sangat parah. Petugas hanya mengandalkan radio suara sehingga mereka gagal melihat kondisi visual di lapangan kecelakaan secara langsung.
Masinis KA Argo Bromo Anggrek sebenarnya mulai mengerem dari jarak 1,3 kilometer, tetapi pusat kendali hanya menyuruhnya mengerem secara bertahap. Masinis baru menarik rem darurat pada jarak 300 meter, sehingga moncong kereta masih menghantam KRL pada kecepatan 40-60 km/jam.
Tim investigasi juga menyoroti gangguan visual dari lampu pasar yang membutakan mata masinis saat berusaha membaca sinyal blok. Di sisi lain, taksi listrik Green SM terbukti tidak mengalami kerusakan kelistrikan, namun tuas transmisinya mendadak berpindah menipu pengemudi.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media