News . 26/05/2026, 15:00 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
KNKT masih terus menggali faktor krusial lainnya yang memicu perpindahan transmisi taksi dari mode Drive ke Netral. Tim investigasi memastikan mobil canggih tersebut telah mengantongi sertifikat lolos uji keamanan kelistrikan berstandar internasional sebelum tragedi terjadi.
Sektor keselamatan sejatinya sangat membutuhkan kucuran dana jumbo, tetapi realisasi anggaran Kementerian Perhubungan pada 2026 justru terjun bebas. Pemerintah memangkas usulan dana Kemenhub secara drastis dari Rp48,88 triliun menjadi hanya sebesar Rp28,48 triliun saja.
Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) yang mengemis dana program strategis Rp8,76 triliun pun harus puas menerima pagu Rp5,48 triliun. Mereka kini mati-matian mengajukan tambahan Rp2,84 triliun demi memperbaiki sistem persinyalan, membangun gardu traksi, dan merawat infrastruktur.
Achmad mengingatkan pemerintah agar tidak memandang anggaran keselamatan sekadar sebagai daftar proyek pembangunan fisik semata. Kemenhub wajib mengarahkan dana triliunan tersebut untuk mengaudit sistem sinyal jalur padat dan memodernisasi alat komunikasi darurat real-time.
Kecelakaan tragis di Bekasi Timur ini memicu gelombang trauma mendalam bagi keluarga korban dan langsung menghancurkan aset negara. Publik kini mulai meragukan keamanan transportasi massal jika pemerintah hanya berambisi menambah perjalanan tanpa memperkuat fondasi keselamatan dasar.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, mengaku masih menanti kesimpulan akhir investigasi KNKT sebelum menjatuhkan tindakan tegas. Walau begitu, Kemenhub langsung tancap gas mengevaluasi total kelayakan sarana, prosedur darurat, hingga standar kompetensi petugas lapangan.
Pemerintah juga membunyikan alarm bahaya terhadap ribuan pelintasan sebidang yang terus memakan korban jiwa setiap tahun. Kemenhub mencatat angka fantastis 1.058 kecelakaan berdarah di pelintasan kereta api hanya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.
Negara ini memiliki 3.674 pelintasan sebidang, di mana 1.810 titik rawan tersebut sama sekali tidak memiliki petugas penjaga. Pemerintah kini mendesak penutupan 172 pelintasan sempit dan memprioritaskan penyediaan alat keselamatan di 1.638 lokasi lainnya.
Kasus horor Bekasi Timur menjadi tamparan keras bagi masa depan keselamatan perkeretaapian nasional kita. Anda tidak bisa lagi merasa aman jika satu celah kecil dalam sistem birokrasi sukses mengubah perjalanan biasa menjadi tragedi massal. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media