Program MBG Dituding Punya Masalah Tata Kelola: Dapur Sekolah Dihentikan Mendadak, Siapa Dalangnya?
Ini adalah inisiatif yang patut mendapat dukungan penuh karena bertujuan untuk meningkatkan kualitas program.
Akan tetapi, Tamsil Linrung mengingatkan agar segala upaya perbaikan ini dibarengi dengan penerapan tata kelola yang benar-benar jelas dan transparan.
Hal ini sangat krusial, terutama terkait nasib para pengelola dapur MBG yang operasionalnya terpaksa dihentikan.
Tamsil berpandangan bahwa perbaikan pada aspek tata kelola jauh lebih fundamental dan penting dibandingkan sekadar memutus rantai operasional dapur yang sudah terbangun.
“Seharusnya dibuat semacam kategorisasi yang jelas. Jika dapur yang sudah berjalan lancar tiba-tiba dihentikan, ini justru akan menciptakan masalah baru yang lebih kompleks,” tegas Tamsil.
Ia bahkan melontarkan pertanyaan retoris mengenai nasib bangunan dapur yang sudah terlanjur didirikan jika operasionalnya harus dihentikan secara tiba-tiba.
Tamsil mengaku, berbagai aduan dan cerita mengenai persoalan pelaksanaan MBG kerap ia dengar langsung dari berbagai daerah.
Salah satu isu yang paling sering muncul adalah dugaan adanya praktik titipan dalam proses pengelolaan dapur.
Tak hanya itu, Tamsil bahkan secara blak-blakan mengungkapkan adanya indikasi kuat bahwa pengelolaan dapur MBG dikuasai oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan.
“Memang ada benarnya rumor yang beredar bahwa dapur-dapur ini dikuasai oleh oligarki, bahkan ada keterlibatan oknum polisi dan tentara.
Ada unsur titipan yang kuat dalam proses pengelolaannya,” ungkapnya.
Namun, Tamsil tak ingin terburu-buru menyimpulkan.
Ia menekankan, berbagai persoalan yang terjadi di lapangan ini bukanlah alasan yang cukup kuat untuk menyatakan program MBG sebagai sebuah kegagalan total.
Kritik Konstruktif untuk Akselerasi Kemajuan
Berdasarkan hasil pantauannya yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, Tamsil menemukan fakta menarik.