News . 11/05/2026, 13:54 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Karawang Bekasi FIN - Modernisasi irigasi yang digarap PT Hutama Karya (Persero) mulai menunjukkan dampak nyata bagi sektor pertanian di Kabupaten Indramayu. Setahun setelah proyek Irigasi Rentang LMS-02 rampung, petani kini menikmati kepastian pasokan air yang membuat frekuensi masa tanam meningkat hingga dua kali dalam setahun.
Proyek bernama ICB Package LMS-02: Utara Main Canal Upgrading Works For Rentang Irrigation Modernization Project tersebut menjadi salah satu infrastruktur strategis yang menopang ketahanan pangan nasional. Kehadiran saluran induk modern ini mengairi lebih dari 16 ribu hektare lahan pertanian di lima kecamatan di Indramayu.
Hutama Karya menyelesaikan proyek modernisasi irigasi LMS-02 dengan nilai investasi mencapai Rp582 miliar. Proyek tersebut berfokus pada rehabilitasi dan peningkatan kapasitas saluran induk atau Utara Main Canal sepanjang 30,16 kilometer.
Seluruh pekerjaan konstruksi dinyatakan selesai pada 29 April 2025. Proyek ini menjadi bagian dari program strategis Kementerian Pekerjaan Umum bersama Kementerian Pertanian untuk membangun sistem irigasi terpadu berbasis elektrik yang terintegrasi di Bendung Rentang.
Keberadaan proyek ini melayani wilayah pertanian di Kecamatan Rancajawat, Tukdana, Widasari, Lohbener, dan Arahan. Total luas sawah yang mendapat pasokan air mencapai 16.308 hektare.
Dengan cakupan yang luas tersebut, LMS-02 memegang peran penting dalam menjaga distribusi air di jaringan utama irigasi. Infrastruktur ini sekaligus memperkuat stabilitas produksi pertanian di kawasan lumbung pangan Jawa Barat.
Berbeda dari sistem irigasi konvensional, proyek LMS-02 mengadopsi teknologi modern melalui penggunaan pintu air elektrik dan sistem telemetri. Teknologi ini memungkinkan pengelolaan distribusi air berjalan lebih terukur dan efisien.
Dalam tahap konstruksi, Hutama Karya membangun 20 unit bangunan offtake, sembilan unit diversion offtake, 14 rumah generator atau generator house, serta 17 unit telemetri.
Sistem tersebut membantu operator memantau sekaligus mengendalikan distribusi air secara terpusat dari Bendung Rentang. Dengan pengaturan yang lebih presisi, debit air dapat dijaga tetap optimal hingga ke saluran sekunder dan tersier.
Dampak modernisasi mulai terlihat setelah satu tahun infrastruktur difungsikan. Tingkat kehilangan air atau water losses turun drastis karena bangunan saluran mampu menahan debit air lebih baik, termasuk saat masa pengeringan.
Kondisi itu membuat petani tidak lagi terlalu bergantung pada pola distribusi air lama yang sering mengalami kendala saat musim kemarau.
Peningkatan kualitas distribusi air membawa perubahan signifikan terhadap pola tanam petani di Indramayu. Jika sebelumnya petani hanya mampu melakukan satu kali masa tanam dalam setahun, kini frekuensinya meningkat menjadi dua kali.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media