News . 14/05/2026, 19:03 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Oleh: Sigit Nugroho
Saya sering melewati jalan itu. Jalan Daan Mogot. Jalan utama yang membelah Jakarta Barat menuju Kota Tangerang. Tapi jujur, saya tidak benar-benar kenal siapa beliau. Saya hanya tahu dia pahlawan. Saya hanya tahu dia mati muda.
Sampai akhirnya, 6 Mei lalu, mantan redaktur saya, Khanif Lutfi, mengajak saya "insaf" sejarah. Bersama Pak Gatot Wahyu Handono, kami meluncur ke sebuah sudut di ujung jalan Daan Mogot, Tangerang. Ke sebuah Taman Makam Pahlawan (TMP).
Awalnya, bayangan saya akan melihat deretan ribuan nisan seperti di TMP Bulak Kapal, Bekasi. Ternyata tidak. TMP ini sunyi. Hanya ada 36 pahlawan yang dimakamkan di situ.
Ada yang ganjil. Begitu saya perhatikan nisan-nisannya, hampir semua tertulis tanggal wafat yang sama: 25 Januari 1946.
Hati saya bertanya-tanya: Perang macam apa yang terjadi hari itu? Kok bisa wafatnya rombongan?
Lutfi, yang mendadak jadi tour guide hari itu, mulai bercerita. Inilah para korban Peristiwa Lengkong. Di situ juga saya baru sadar, selain Daan Mogot, ada dua nama yang sangat familiar: Soebianto Djojohadikoesoemo dan Soejono Djojohadikoesoemo.
Ya, mereka adalah paman dari Presiden kita, Prabowo Subianto.
Saya pun mendekat ke diorama dan prasasti yang ada. Saya coba membayangkan kejadiannya. Waktu itu, 161 hari setelah Indonesia merdeka. Harusnya suasana sudah tenang. Daan Mogot, yang saat itu sudah berpangkat Mayor, membawa taruna-taruna muda Akademi Militer Tangerang.
Tujuan mereka mulia: Negosiasi perlucutan senjata tentara Jepang di Hutan Lengkong.
Awalnya lancar. Tidak ada ketegangan. Sampai tiba-tiba... Dorr!
Satu letusan senjata entah dari mana mengubah segalanya. Sampai sekarang, tidak ada yang tahu siapa yang menarik pelatuk pertama kali. Apakah taruna kita yang tidak sengaja, atau tentara Gurkha yang kelepasan?
Dunia langsung berubah jadi neraka. Tentara Jepang merasa dijebak. Mereka merebut kembali senjata yang sudah diserahkan. Baku tembak pecah dalam jarak dekat.
Taruna-taruna muda itu belum banyak pengalaman perang. Mereka kalah posisi. Tiga perwira dan 33 taruna gugur di tempat.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media