News . 14/05/2026, 19:03 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Prasasti Peristiwa Lengkong. Dok. Gatot -
Saya tertegun lama di depan pusara Daan Mogot. Saya cek tahun lahirnya: 1927. Wafat 1946. Berarti usianya baru 19 tahun. Di usia segitu, dia sudah jadi Direktur Akademi Militer. Bayangkan, anak muda umur 19 tahun sudah memimpin sekolah calon jenderal.
Zaman sekarang, anak umur 19 tahun mungkin masih sibuk dengan gadget atau bingung memilih jurusan kuliah. Tapi Daan Mogot sudah memikirkan bagaimana cara mempertahankan kedaulatan negara yang baru seumur jagung.
Akademi Militer Tangerang memang tidak berumur panjang. Bubar setelah peristiwa itu. Namun, dari darah para taruna di Lengkong inilah, kelak lahir Akademi Militer (Akmil) di Magelang yang kita kenal sekarang.
Setiap tanggal 25 Januari pun kini diperingati sebagai Hari Bhakti Taruna. Untuk mengenang mereka yang tak sempat menikmati masa muda demi sebuah kata: Merdeka.
Siang itu, di bawah langit Tangerang, saya menundukkan kepala. Saya berdoa di pusara Daan Mogot, juga di makam Soebianto dan Soejono.
Ternyata, sejarah itu bukan sekadar nama jalan yang kita lewati setiap hari. Sejarah itu adalah tetesan darah anak muda yang rela "selesai" lebih cepat, agar kita bisa berjalan dengan tegak di jalanan yang menyandang nama mereka hari ini.
Usai berdoa, saya melangkah keluar. Idulfitri baru saja lewat, tapi di Lengkong, saya menemukan makna "suci" yang lain: Pengorbanan yang tak menuntut kembali. (Sigit Nugroho)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media