News . 16/05/2026, 20:09 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Ia menilai dampak signifikan baru akan terasa ketika penetrasi kendaraan listrik mencapai lebih dari 15 hingga 20 persen dari total armada kendaraan nasional.
Di tengah pertumbuhan pasar EV, Iwa melihat motor listrik memiliki peluang paling besar dalam menekan konsumsi bensin nasional.
Menurutnya, pertumbuhan motor listrik di Indonesia bergerak lebih cepat dibanding mobil listrik. Hal itu dinilai wajar karena harga motor listrik relatif lebih terjangkau dan lebih sesuai dengan kebutuhan transportasi harian masyarakat.
Karena itu, pengembangan kendaraan roda dua listrik dinilai bisa menjadi langkah strategis untuk mempercepat pengurangan konsumsi BBM di sektor transportasi.
Meski mendukung kebijakan insentif kendaraan listrik, Iwa mengingatkan bahwa strategi pajak tidak bisa berdiri sendiri.
Menurutnya, pemerintah juga harus memperkuat ekosistem kendaraan listrik dari sisi infrastruktur dan pasokan energi.
“Pajak hanya demand-side. Untuk benar-benar mengurangi ketergantungan BBM, perlu supply-side dan ekosistem,” katanya.
Ia menyoroti pentingnya percepatan pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), pengembangan industri baterai nasional, hingga penggunaan energi baru terbarukan (EBT) sebagai sumber listrik kendaraan listrik.
Tanpa dukungan listrik bersih dan industri baterai lokal yang kuat, dampak kendaraan listrik terhadap pengurangan konsumsi BBM dinilai tetap terbatas.
Selain penguatan infrastruktur, Iwa juga mendorong pemerintah untuk mempercepat elektrifikasi transportasi publik.
Menurutnya, subsidi untuk bus listrik serta konversi angkutan umum menjadi kendaraan listrik akan memberikan dampak lebih besar dibanding hanya mendorong penggunaan mobil listrik pribadi.
Langkah tersebut dinilai mampu mempercepat efisiensi energi sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dalam skala yang lebih luas.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media