Bisnis . 17/05/2026, 15:32 WIB
Penulis : Gatot Wahyu | Editor : Gatot Wahyu
Dampak finansial dari transisi ke kendaraan ramah lingkungan ini ternyata jauh lebih berat dari perkiraan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, Honda memperkirakan masih akan ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan.
Perusahaan memproyeksikan akan ada pengeluaran tambahan sekitar 500 miliar yen, atau setara Rp55 triliun, untuk bisnis EV pada tahun fiskal berikutnya.
Tampaknya, jalan menuju elektrifikasi masih penuh dengan rintangan finansial yang berat.
Menghadapi realitas finansial yang pahit ini, Honda tidak tinggal diam.
CEO Honda, Toshihiro Mibe, secara tegas menyatakan adanya pembatalan terhadap target penjualan kendaraan listrik.
Sebelumnya, Honda menargetkan kendaraan listrik akan menyumbang seperlima dari total penjualan mobil baru mereka pada tahun 2030.
Kini, target ambisius itu harus dikubur dalam-dalam.
Selain itu, Honda juga memutuskan untuk mundur dari target awal mereka untuk sepenuhnya beralih ke penjualan kendaraan listrik dan kendaraan berbahan bakar sel (fuel cell) pada tahun 2040.
Pergeseran strategi ini menunjukkan betapa seriusnya tantangan yang dihadapi Honda dalam mewujudkan masa depan mobilitas elektrik.
Bahkan, keputusan drastis juga diambil terkait investasi besar.
Honda memutuskan untuk menunda proyek kendaraan listrik mereka di Kanada.
Proyek senilai 9 miliar euro atau setara Rp183 triliun ini ditunda tanpa batas waktu yang jelas.
Proyek ambisius ini sebelumnya dirancang untuk memproduksi kendaraan listrik dan baterai secara lokal di Kanada, namun kini harus masuk ke dalam daftar tunggu yang tidak pasti.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media