Lifestyle
Follow
Dia (Musa) berkata, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu. Sungguh engkau telah mencapai batas (yang wajar dalam) memberikan uzur (maaf) kepadaku.”
fanthalaqâ, ḫattâ idzâ atayâ ahla qaryatinistath‘amâ ahlahâ fa abau ay yudlayyifûhumâ fa wajadâ fîhâ jidâray yurîdu ay yangqadldla fa aqâmah, qâla lau syi'ta lattakhadzta ‘alaihi ajrâ
Lalu, keduanya berjalan, hingga ketika keduanya sampai ke penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka tidak mau menjamu keduanya. Kemudian, keduanya mendapati dinding (rumah) yang hampir roboh di negeri itu, lalu dia menegakkannya. Dia (Musa) berkata, “Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.”
qâla hâdzâ firâqu bainî wa bainik, sa'unabbi'uka bita'wîli mâ lam tastathi‘ ‘alaihi shabrâ
Dia berkata, “Inilah (waktu) perpisahan antara aku dan engkau. Aku akan memberitahukan kepadamu makna sesuatu yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.
ammas-safînatu fa kânat limasâkîna ya‘malûna fil-baḫri fa arattu an a‘îbahâ, wa kâna warâ'ahum malikuy ya'khudzu kulla safînatin ghashbâ
Adapun perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut. Maka, aku bermaksud membuatnya cacat karena di hadapan mereka ada seorang raja (zalim) yang mengambil setiap perahu (yang baik) secara paksa.
wa ammal-ghulâmu fa kâna abawâhu mu'minaini fa khasyînâ ay yur-hiqahumâ thughyânaw wa kufrâ
Adapun anak itu (yang aku bunuh), kedua orang tuanya mukmin dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya untuk durhaka dan kufur.
fa aradnâ ay yubdilahumâ rabbuhumâ khairam min-hu zakâtaw wa aqraba ruḫmâ
Maka, kami menghendaki bahwa Tuhan mereka menggantinya (dengan seorang anak lain) yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).
wa ammal-jidâru fa kâna lighulâmaini yatîmaini fil-madînati wa kâna taḫtahû kanzul lahumâ wa kâna abûhumâ shâliḫâ, fa arâda rabbuka ay yablughâ asyuddahumâ wa yastakhrijâ kanzahumâ raḫmatam mir rabbik, wa mâ fa‘altuhû ‘an amrî, dzâlika ta'wîlu mâ lam tasthi‘ ‘alaihi shabrâ
Adapun dinding (rumah) itu adalah milik dua anak yatim di kota itu dan di bawahnya tersimpan harta milik mereka berdua, sedangkan ayah mereka adalah orang saleh. Maka, Tuhanmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Aku tidak melakukannya berdasarkan kemauanku (sendiri). Itulah makna sesuatu yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.”
wa yas'alûnaka ‘an dzil-qarnaîn, qul sa'atlû ‘alaikum min-hu dzikrâ
Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Zulqarnain. Katakanlah, “Akan aku bacakan kepadamu sebagian kisahnya.”
Sederet Keutamaan Membaca Surat Al Kahfi di Hari Jumat, Lengkap dengan Waktu dan Manfaatnya
Saluran WhatsApp Resmi karawangbekasi.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Ilustrasi (net)